Bayang-Bayang di Batas Senja

Sore ini hujan deras mengguyur kota Depok. Dika terpaksa meneduh di kampus sampai hujan reda. Sembari menuggu hujan reda, Dika mendengarkan musik dan SMS-an dengan Yuna untuk pulang bersama. Yuna adalah sahabat Dika sejak SMA. Banyak orang mengira mereka pacaran. Padahal mereka juga sering bertengkar karena Yuna tidak menyukai kebiasaan Dika yang suka gonta-ganti pacar. Sesaat Dika melihat-lihat pemandangan di taman kampus. Tiba-tiba Dika melihat bayangan seorang wanita sedang duduk di bawah pohon. Dika bingung. Kenapa saat hujan deras begini ada orang duduk di taman, umpatnya dalam hati. Dika ingin memberinya payung dan menyuruhnya meneduh tapi dia ragu. Handphone Dika berdering, ada telefon masuk dari Yuna.

“Halo Na.. lo selesai jaga lab jam berapa? Cepetan dong, gue bete nih nunggu di luar sendirian” tanya Dika dengan suara keras karena hujan deras dan kesal sudah menunggu lama.

Setelah satu menit terima telefon dari Yuna, wanita di taman itu sudah tidak ada. Dika penasaran kemana wanita itu pergi. Akhirnya Dika jalan-jalan mengelilingi taman, siapa tahu ketemu wanita tadi. Tapi tiba-tiba bulu kuduk Dika terasa merinding. Dia merasa ada yang mengikutinya. Padah ini masih sore tapi Dika merasa ada yang aneh. Ketika Dika menengok ke kanan kiri depan dan belakang, tidak ada satu orangpun. Jangan-jangan Yuna lagi ngerjain gue nih, dia kan suka iseng, pikir Dika dengan kesal.

“Hiks… Hiks…” tiba-tiba suara seorang wanita terdengar dari kelas paling pojok dekat taman.

Dika penasaran dengan suara tangis itu. Akhirnya dia berjalan ke sumber suara itu. Ia mengintip dari jendela. Ternyata wanita yang tadi duduk di taman. Dika merasa kasihan dengan wanita itu kerena teman-teman kelasnya tidak ada yang menghiburnya. Dengan rasa yakin sebagai seorang pria yang pintar mengambil hati wanita, akhirnya Dika menghampiri wanita itu.

“Maaf, tadi gue lihat lo duduk kehujanan di taman. Dan sekarang gue kebetulan lihat lo nangis. Gue gak tega ngelihatnya. Lo ada masalah?” tanya Dika dengan ragu karena takut dibilang sok kenal.

Wanita itu diam saja dan tetap menangis. Wajahnya sangat pucat. Dika berusaha menghiburnya tapi wanita itu tidak menggubris. Dika melihat handphonenya. Ada lima panggilan masuk dari Yuna. Dika ingin menelfon Yuna tapi suda ada panggilan masuk lagi.

“Halo Dik, lo di mana? Gue udah selesai jaga nih, gue cari kemana-mana lo ga ada!” tanya Yuna dengan sewot.

“Iya sori.. Tadi gue bete nunggu lo lama banget. Akhirnya gue jalan-jalan dulu deh.”

Dika langsung pergi dengan cepat tanpa memperhatikan wanita itu. Ketika Dika jalan keluar dan melihat pojok kelas, wanita itu tidak ada. Dika kaget kemana wanita itu pergi. Dia cari dalam keramaian mahasiswa di kelas, wanita itu tidak ada. Perasaan Dika tidak enak. Jangan-jangan dia… Ia langsung menepis pikiran anehnya. Mungkin saja wanita itu ngobrol dengan temannya.

***

Sepanjang perjalanan pulang Dika terus memikirkan wanita itu.

“Wooii… Ngapain lo bengong aja! Kesambet lo maghrib-maghrib ngelamun aja” teriak Yuna mengagetkan Dika.

“Ngagetin aja lo Na. Gue lagi konsen nyetir motor tau!”

“Pake ngeles lagi. Lo lagi mikirin cewe mana lagi sih? Sampe bengong gitu. Awas tuh ada kucing di depan Dik…!”

GUBRAKK!!

Dika ngerem mendadak dan hampir menabrak seekor kucing.

“Makanya kalo nyetir tuh jangan ngelamun. Hampir aja kucing itu ketabrak” Yuna marah-marah sambil terus melihat kucing itu.

Kucing itu terlihat seram. Warnanya hitam dan matanya menatap Yuna seakan-akan ia musuhnya.

“Sori ya Na.. Gue tadi ketemu cewe cantik tapi aneh. Masa lagi hujan malah duduk di taman. Gue ajak ngomong malah diem aja” curhat Dika dengan serius.

“Hahaha…. Lagian lo sok kenal banget. Lo juga sok perhatian banget. Rasain lo dicuekin. Dasar playboy.” Ledek Yuna dengan tawa terbahak-bahak karena baru pertama kali sahabatnya dicuekin wanita.

***

Siang itu suasana Lab Akuntansi begitu ramai. Yuna penasaran ada masalah apa sampai mahasiswa berkumpul sebanyak itu. Saat Yuna mendekat ke dalam kerumunan itu dia melihat seekor kucing hitam yang nyawanya sekarat. Kucing itu mirip sekali dengan kucing yang dia temui kemarin. Tiba-tiba mata kucing itu menatap Yuna dengan tajam. Yuna ketakutan.

“Ririn, kucing itu kenapa bisa ada di sini dan kenapa sampai luka-luka begitu?” tanya Yuna dengan penuh penasaran.

“Kayaknya kucing itu bertengkar dengan kucing lain semalam. Tapi aku juga bingung, kenapa bisa masuk ke sini, padahal pintu dikunci dan jendela Lab tinggi banget” cerita Ririn dengan dengan serius.

Yuna merasa ada yang aneh mengapa kucing itu menatapnya terus. Yuna ingin menolong kucing itu tapi dia urungkan niatnya. Akhirnya kucing itu dibawa oleh office boy ke luar untuk diobati.

***

            Sore itu, Yuna sholat ashar di mushola bersama teman aslab. Ia melihat kucing hitam itu lagi sepintas berjalan di koridor Lab Akuntansi.

“Rin, itu kucing hitam yang tadi siang kan? Kok cepat banget sembuhnya ya?” Yuna berusaha bersikap wajar kerena sebetulnya dia sedikit takut.

“Mana Na? Gak ada kucing lewat. Kamu dari tadi ngomongin kucing itu terus” jawab Ririn heran. Dia melihat sekeliling tidak ada kucing lewat.

Yuna jelas-jelas melihat kucing itu sehat. Tapi mengapa temannya tidak melihat. Yuna terdiam dan kebingungan. Dia semakin takut karena dua hari ini bertemu dengan kucing aneh.

Setelah sholat Yuna kembali ke Lab. Dia ingin cerita kejadian hari ini pada Dika tetapi ada jadwal mengajar sampai shift malam. Sembari menunggu praktikan datang, Yuna melihat pemandangan di taman melalui jendela Lab. Yuna melihat sosok wanita terdiam duduk di bawah pohon. Wanita itu terlihat sangat pucat. Seketika perhatian Yuna sepenuhnya teralih, terpusat pada wanita itu. Mendadak wanita itu menatap ke arah Lab, tepat di jendela tempat Yuna beridiri. Yuna tersontak dan membalikkan tubuhnya menjauhi pandangan dari wanita itu. Wanita itu menatap Yuna dengan melotot, raut wajahnya sangat pucat. Seketika Yuna penasaran, dia ingin melihat wanita itu lagi. Wanita itu sudah tidak ada. Pandangan Yuna sibuk mencari di seluruh taman tapi dia tidak melihat wanita itu. Cepat sekali wanita itu pergi, pikir Yuna dalam hati. Yuna ketakutan. Dia ingin secepatnya pulang tetapi masih ada jadwal mengajar. Hati Yuna gelisah. Dia berharap ada hambatan mengajar dan dia bisa cepat pulang.

Hari semakin gelap dan Yuna merasa hari ini berjalan sangat lama. Pikirannya selalu tertuju pada wanita tadi sore yang ia lihat. Yuna terus menerus SMS Dika supaya jangan terlambat menjemputnya.

***

            Pikiran Dika terus menerus tertuju pada wanita yang tadi sore ia lihat di koridor Lab Akuntansi. Saat Dika ingin menjemput Yuna, ia melihat sosok wanita yang sama dengan wanita yang kemarin ia temui. Ketika Dika menghampirinya, wanita itu melesat pergi dengan cepat. Dika semakin penasaran mengapa setiap sore ia bertemu dengan wanita aneh itu.

Malam itu, Dika pergi ke rumah Yuna untuk menceritakan kejadian anehnya beberapa hari ini. Dika menceritakan semuanya dengan jelas sambil sesekali memejamkan matanya membayangkan wanita itu.

“Hari ini gue juga terjadi kejadian hampir sama kaya lo…” dengan ragu Yuna menceritakan semuanya tantang kejadian hari ini.

Yuna ketakutan dan hampir menangis. Dika dan Yuna terdiam beberapa saat. Keduanya saling menatap.

“Jangan-jangan….” mereka dengan kompak bicara dengan kata-kata yang sama.

“Gue takut Dik.. Gimana kalau besok gue ketemu wanita itu lagi?” wajah Yuna memelas ketakutan.

“Mungkin aja kita kebetulan ketemu wanita yang sama. Mungkin aja wanita itu lagi ada masalah” ucap Dika menepis semua pikiran buruknya.

***

            Hari masih pagi dan kampus masih sepi. Pagi ini Yuna ada jadwal jaga. Yuna dan teman-temannya sedang membereskan arsip aslab. Kebetulan ada temannya dari Lab SI datang membawa arsip juga. Yuna iseng melihat-lihat data aslab SI. Dan tidak sengaja dia melihat foto seorang wanita. Pikiran Yuna melayang, sepertinya di pernah melihat wanita itu tapi di mana. Dia memejamkan mata sesaat, berusaha menyatukan konsentrasinya. Yuna behenti berpikir. Yuna melihat wanita itu kemarin sore, foto wanita itu mirip sekali dengan wanita yang ada di taman. Yuna membaca dengan seksama data wanita itu.

Yuna terduduk lemah di lantai. Dia tidak percaya dengan apa yang dia baca. Wanita itu sudah meninggal tujuh tahun yang lalu. Yuna mendekap wajahnya dan merunduk dalam-dalam. Sekarang jadi betul-betul kacau. Yuna semakin ketakutan. Dia membayangkan wanita itu mengikutinya.

Tepat saat itulah, Yuna melangkah keluar untuk mencari Dika. Dia membawa sebagian arsip itu.

“Yuna.. Lo mau kemana bawa arsip aslab SI? Kok muka lo pucat banget?” tanya Henri dengan bingung melihat temannya terlihat pucat dan panik.

“Gue pinjem dulu sebentar ya arsipnya. Temen gue ada yg mau kenalan sama aslab SI, pingin lihat fotonya.” Yuna terpaksa bohong dan berusaha bersikap wajar, meskipun tidak terlihat wajar.

Yuna berlari mencari Dika ke kelasnya tapi tidak ada. Yuna berjalan cepat tanpa mempedulikan semua orang di kampus. Para mahasiswa terlihat bingung melihat Yuna berlari dengan wajah yang pucat seperti dikejar hantu.

Yuna berhenti sejenak, berusaha mengatur nafasnya yang terengah-engah. Jantungnya seperti berhenti berdetak. Yuna terduduk lemah di depan Dika. Dia menatap Dika dengan penuh harap bahwa semua ini tidak benar. Yuna meletakkan arsip itu. Dika menatap Yuna dengan heran dan kaget tiba-tiba muncul dengan wajah pucat.

“Lo kenapa? Tiba-tiba datang dengan muka ketakutan sambil lari kaya di kejar setan. Ngagetin gue aja” komentar Dika dengan memandang Yuna yang sedari tadi diam.

“Lo lihat dulu arsip itu dan jangan tanya-tanya dulu ke gue” pinta Yuna yang nafasnya masih tidak teratur.

Yuna yang masih dalam keadaan shock mendekap wajahnya. Rasa takutnya meletup.

“Wanita ini mirip dengan wanita yang beberapa hari lalu gue lihat…” suara Dika melemah.

Keheningan menyergap, sesaat dan seketika. Mereka terdiam dan menyesali semua kejadian yang menimpanya.

***

            Semenjak melihat arsip itu, Dika dan Yuna tidak lagi melihat sosok wanita itu. Mereka melakukan aktifitas seperti biasanya, tidak ada kejadian aneh yang mereka temui.

“Yuna… Kita pulang bareng” panggil Dika dengan sumringah.

“Tumben lo hari sabtu ga ngapelin cewe-cewe” ledek Yuna pada temannya yang terkenal playboy itu.

“Kan gue mau berduaan aja sama sahabat tersayang. Hahaha..” goda Dika sambil mengacak-acak rambut Yuna.

“Lo udah ga pernah lihat sosok aneh lagi kan?” Dika melirik Yuna yang mulai ketakutan.

“Udah ah, jangan diungkit-ungkit lagi. Ayo pulang!” sahut Yuna sewot.

Rasa lega mententramkan hati Yuna. Yuna memandang Dika sesaat dan mengalihkan mata. Mendadak Yuna gembira dan merasa jantunya berdetak kencang.

***

Advertisements